Kosong

Dia tertawa, ketika harus tertawa
Dia menangis, ketika harus menangis
Namun tak ada sedikitpun emosi
Yang terkandung baik dalam tawa, maupun air matanya

Dia tertawa, hanya ketika yang lain tertawa
Dan dia menangis, hanya ketika yang lain menangis
Karena ia hanya ingin dianggap sama
Seperti kebanyakan orang

Tertawalah ketika kamu bahagia
Menangislah ketika memang menyedihkan
Namun tanyanya, "Bagaimana rasanya bahagia?"
"Dan apa itu menyedihkan?"

Kasihan sekali dia!
Tidak dapat merasakan apa-apa dalam hidupnya
Bersyukurlah kalian yang masih bisa merasakan sakit
Setidaknya ada warna yang bisa dirasakan dalam hidup kalian

Bahkan dia tidak mengenal apa itu rasa sakit
Bukan...
Dia "pernah" mengenal rasa sakit itu
Dan bersahabat dengannya

Menjadi sahabat dengan rasa sakit
Tentu bukan hal yang menyenangkan
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi
Dan memilih jalan menuju kehampaan

Dia bahkan tidak sempat merasakan
Apa yang mereka sebut dengan bahagia
Kejamnya hidup telah mendoktrin pikirannya
Bahwa bahagia itu semu, dan tak pantas untuk dirasakan

Dia pernah mencoba
Untuk meraba warna di udara
Namun warna itu kerap pudar
Terkalahkan oleh kuatnya akal sehat

Dia tidak memiliki apa yang semua orang miliki
Impian, harapan, cita-cita, dan kasih
Karena hidupnya sudah terlalu penuh
Penuh sesak dengan kekosongan

Jika manusia sudah tidak memiliki harapan dalam hidupnya
Apa dia masih bisa dikatakan hidup?
Raganya hidup
Namun jiwanya mati

Akhirnya dia memutuskan untuk pergi
Dan memilih jalan menuju kehampaan
Menuju kekosongan abadi
Meninggalkan dunia... untuk selamanya...

-Untuk sobat yang kukasihi.

Komentar

Postingan Populer